8 November 2026 - 19:03
Infak dan Kepedulian Sosial Menjadi Kebutuhan Penting Masyarakat Saat Ini

Penceramah di Makam Suci Sayyidah Fatimah Maksumah Sa menekankan pentingnya memperhatikan kondisi ekonomi dan kehidupan masyarakat. Ia menyebut infak dan kepedulian sosial sebagai kebutuhan penting saat ini. Menurutnya, sejumlah sektor usaha, khususnya di wilayah selatan Iran dan pulau-pulau wisata, tengah mengalami kelesuan akibat situasi dan berbagai ancaman belakangan ini. Sementara itu, banyak keluarga menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup dan membayar sewa rumah. Para pemilik properti dan masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi dapat membantu meringankan beban tersebut dengan mengurangi sebagian biaya sewa atau memberikan kelonggaran waktu pembayaran kepada para penyewa.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Hujjatul Islam wal Muslimin Nasser Rafi'i, dalam ceramahnya di Makam Suci Sayyidah Fatimah Maksumah Sa, menjelaskan kandungan Surah Ali Imran ayat 92:

«لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّیٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ»

Artinya: "Kamu sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai."

Ia menjelaskan bahwa menginfakkan sesuatu yang dicintai merupakan jalan untuk mencapai kebajikan dan kesempurnaan. Menurutnya, seseorang baru dapat mencapai hakikat kebajikan ketika ia bersedia memberikan sesuatu yang benar-benar dicintainya di jalan Allah Swt.

Dengan menyinggung makna kata al-birr dalam Al-Qur'an, Rafi'i mengatakan bahwa istilah tersebut memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar perbuatan baik atau pahala di akhirat. Al-birr mencakup berbagai bentuk kebajikan dan nilai-nilai ilahi, antara lain keimanan kepada Allah, hari kiamat, para malaikat, kitab-kitab suci, pelaksanaan salat, pembayaran zakat, menepati janji, serta kesabaran. Ia menjelaskan bahwa Surah Al-Baqarah ayat 177 juga menguraikan makna kebajikan secara luas dengan menyebutkan berbagai sifat tersebut.

Rafi'i menegaskan bahwa salah satu ukuran utama dalam berinfak adalah kesediaan memberikan sesuatu yang benar-benar dicintai. Untuk menjelaskan hal tersebut, ia mengemukakan sejumlah contoh dari kehidupan Ahlulbait As.

Menurutnya, Imam Husain As menyukai gula, sedangkan Imam Sajjad As menyukai anggur. Namun, ketika seseorang yang membutuhkan datang meminta bantuan, keduanya memberikan makanan yang mereka sukai tersebut.

Perilaku ini menunjukkan bahwa nilai infak berkaitan dengan besarnya kecintaan seseorang terhadap sesuatu yang rela ia korbankan, bukan semata-mata memberikan harta yang sudah tidak lagi dibutuhkannya.

Dosen hauzah dan universitas tersebut juga menyinggung kedudukan tinggi pengorbanan atau itsar dalam ajaran Ahlulbait As. Ia menyebut pengorbanan Sayyidah Ummul Banin Sa, yang mempersembahkan keempat putranya dalam perjuangan membela Imam Husain As, sebagai salah satu contoh penting kerelaan memberikan sesuatu yang paling dicintai manusia.

Rafi'i mengatakan bahwa sebagaimana Sayyidina Abbas As dan para sahabat Imam Husain As telah mengorbankan jiwa mereka di jalan kebenaran, pengorbanan jiwa di jalan Allah merupakan salah satu bentuk infak yang paling luhur.

Ia juga mengingatkan kisah Sayyidah Fatimah az-Zahra Sa yang memberikan pakaian pengantinnya kepada orang yang membutuhkan, serta kisah Ahlulbait As yang memberikan makanan kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.

Rafi'i menegaskan bahwa infak yang sesungguhnya adalah ketika seseorang memberikan sesuatu yang berharga dan dicintainya.

Infak bukan sekadar memenuhi seluruh kebutuhan pribadi terlebih dahulu, kemudian memberikan sisa harta atau makanan kepada orang lain.

Ia mencontohkan kisah Habil yang mempersembahkan hewan ternak terbaiknya sebagai kurban, sedangkan Qabil memberikan hasil pertanian yang berkualitas rendah. Kisah tersebut menunjukkan perbedaan antara pengorbanan yang dilakukan dengan ketulusan dan pemberian yang tidak didasari kerelaan memberikan sesuatu yang terbaik.

Rafi'i juga menyinggung kisah kebun milik Abu Talhah al-Anshari.

Ia menjelaskan bahwa ketika Surah Ali Imran ayat 92 diturunkan, Abu Talhah memilih hartanya yang paling dicintai, yakni sebuah kebun yang sangat disayanginya, untuk diinfakkan.

Rasulullah Saw membenarkan keputusan tersebut dan menyarankan agar kebun itu dibagikan kepada kerabatnya yang membutuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa membantu anggota keluarga dan kerabat yang membutuhkan memiliki kedudukan penting dan perlu diprioritaskan dalam infak serta sedekah.

Dengan merujuk pada kehidupan Imam Ridha As dalam memperhatikan kebutuhan masyarakat miskin, Rafi'i mengatakan bahwa Imam Ridha As memiliki kebiasaan menyisihkan sebagian makanan untuk kaum fakir sebelum beliau mulai makan.

Menurutnya, perilaku tersebut mengajarkan bahwa infak harus menjadi bagian dari perencanaan hidup sejak awal, bukan hanya dilakukan ketika masih terdapat sisa makanan atau harta. Ia juga mengingatkan janji Allah Swt dalam Al-Qur'an bahwa apa pun yang diinfakkan manusia di jalan-Nya akan digantikan oleh Allah, bahkan pahala infak tersebut akan dilipatgandakan.

Pentingnya Kepedulian Sosial di Tengah Kesulitan Ekonomi

Dalam bagian lain ceramahnya, Rafi'i menekankan pentingnya memperhatikan kondisi ekonomi dan kesulitan hidup yang sedang dihadapi masyarakat. Ia menyatakan bahwa infak dan solidaritas sosial merupakan salah satu kebutuhan penting masyarakat pada masa sekarang.

Menurutnya, sejumlah usaha, khususnya di wilayah selatan Iran dan pulau-pulau wisata, tengah mengalami kelesuan akibat situasi dan berbagai ancaman yang terjadi belakangan ini. Di sisi lain, banyak keluarga mengalami kesulitan dalam memenuhi biaya kebutuhan sehari-hari maupun membayar sewa rumah. Oleh karena itu, ia mengajak para pemilik properti serta orang-orang yang memiliki kemampuan ekonomi untuk berperan dalam meringankan kesulitan masyarakat.

Rafi'i mengatakan bahwa pemilik rumah dapat membantu para penyewa dengan membebaskan sebagian biaya sewa atau memberikan tambahan waktu pembayaran. Langkah-langkah sederhana tersebut, menurutnya, dapat memberikan kontribusi nyata dalam mengurangi tekanan ekonomi yang dialami keluarga-keluarga yang sedang menghadapi kesulitan.

Pada akhir ceramahnya, Rafi'i menegaskan bahwa setiap orang hendaknya berusaha membantu sesama sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Ia menyebut upaya mengurangi kemiskinan dan memberikan dukungan kepada masyarakat yang membutuhkan sebagai salah satu bentuk infak yang paling penting dalam kehidupan sosial.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha